Gerhana matahari
terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari,
sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan
lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena
Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat
dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer. Gerhana
matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari,
sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan
lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena
Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat
dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.
Gerhana
Matahari total, terjadi apabila saat puncak gerhana, piringan Matahari ditutup
sepenuhnya oleh piringan Bulan. Saat itu, piringan Bulan sama besar atau lebih
besar dari piringan Matahari. Gerhana sebagian, terjadi apabila piringan Bulan
(saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan Matahari. Pada
gerhana ini, selalu ada bagian dari piringan Matahari yang tidak tertutup oleh
piringan Bulan. Gerhana hibrida, bergeser antara gerhana total dan Gerhana
sebagian. Pada titik tertentu di permukaan bumi, gerhana ini muncul sebagai
gerhana total, sedangkan pada titik-titik lain muncul sebagai gerhana cincin.
Gerhana hibrida relatif jarang.
Melihat secara langsung ke fotosfer matahari
(bagian cincin terang dari Matahari) dapat membahayakan, karena mengakibatkan
kerusakan permanen retina mata akibat radiasi
tinggi yang tak terlihat yang dipancarkan dari fotosfer.
Kerusakan yang ditimbulkan dapat mengakibatkan kebutaan. Mengamati gerhana
Matahari membutuhkan pelindung mata khusus atau dengan menggunakan metode
melihat secara tidak langsung. Penggunaan kaca mata untuk menyaksikan gerhana
tidak aman karena tidak menyaring radiasi inframerah
yang dapat merusak retina mata. Karena cepatnya peredaran Bumi mengitari
matahari, gerhana matahari tak mungkin berlangsung lebih dari 7 menit dan 58
detik, sehingga pengamatan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin.
Pada hari rabu, (9/03/2016) di Indonesia tepatnya di kepulauan riau
batam, khususnya tanjung uncang pondok pesantren Hidayatullah kampus 2, para
segenab keluarga pesantren melakukan shalat Gerhana Matahari. Alhamdulillah
keluarga besar dapat melihat gerhana tersebut meskipun hanya sebagian matahari
yang tertutup. Hal ini dapat dikatakan bahwa gerhana yang terjadi ialah Gerhana cincin,
terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian
dari piringan Matahari. Gerhana jenis ini terjadi bila ukuran piringan Bulan
lebih kecil dari piringan Matahari. Sehingga ketika piringan Bulan berada di
depan piringan Matahari, tidak seluruh piringan Matahari akan tertutup oleh
piringan Bulan. Bagian piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan
Bulan, berada di sekeliling piringan Bulan dan terlihat seperti cincin yang
bercahaya.
Yang terjadi di
wilayah Indonesia, Rabu (9/3/2016), ternyata bisa mempengaruhi tingkah laku
binatang. Berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) di penangkaran hewan Cibinong Science Center
(CSC), Cibinong, Jawa Barat, beberapa hewan menunjukkan perilaku abnormal
seperti terkena tipuan malam.
Jenis-jenis
hewan diamati dalam penelitian ini adalah binatang dari kategori nokturnal,
atau yang aktif pada malam hari, dan diurnal, atau yang aktif pada siang hari. Pengamatan
perilaku satwa ini berlangsung mulai pukul 05:00 hingga 09:00 WIB dengan
penurunan suhu 1 derajat pada saat terjadi gerhana --dari 25 derajat celsius ke
24 derajat celsius-- dan kelembaban udara yang naik dari 80 persen menjadi 91
persen. "Satwa-satwa yang kami amati di antaranya kelompok mamalia kecil,
kelompok burung paruh bengkok, serta binatang melata atau herpetofauna,"
ujar Hari Sutrisno, Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, pada laman resmi lembaga penelitian
tersebut.
Hewan nokturnal
jenis kukang ternyata menjadi yang paling terpengaruh saat gerhana matahari.
Pada pengamatan pukul 05:00 WIB, kukang masih beraktivitas. Memasuki pukul
05.30 WIB, saat cahaya matahari mulai muncul, kukang mulai berhenti
beraktivitas dan pukul 06.00 WIB, kukang masuk ke sarangnya untuk beristirahat.
Namun, pada saat fenomena gerhana matahari mulai terjadi, kukang bereaksi
kembali. "Pukul 07.30, di sini terlihat kukang kembali bangun dan terlihat
terjaga menoleh kanan kiri, diduga karena adanya pengaruh pengurangan cahaya,"
ujar peneliti LIPI Bidang Laboratorium Nutrisi dan Penangkaran Satwa Liar Pusat
Penelitian Biologi LIPI, Wartika Rosa Farida, kepada Kompas,Rabu
(9/3/2016).
Spesies burung
juga mengalami perubahan perilaku. Mereka tampak mencari perlindungan ketika
gerhana matahari terjadi. Penyebabnya adalah suasana menjadi seperti malam hari
sehingga burung-burung pun menghentikan aktivitasnya.
Salah satu
contoh adalah dari jenis burung Maleo yang teliti oleh tim dari Taman Nasional
Lore Lindu dan Kawasan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Burung betina terlihat
diam saat GMT terjadi dan Maleo jantan terbang menghampiri rumahnya.
Insting, menurut Wartika,
memegang peranan utama dalam tingkah laku ini. Ketika gerhana, langit akan
terlihat gelap menyerupai malam sehingga hewan diurnal langsung beristirahat. Sinar
matahari menjadi seperti alarm tubuh atau jam biologis bagi hewan untuk beraktivitas.
Perubahan perilaku binatang juga bisa dijadikan sebagai tanda untuk mengetahui
peristiwa alam lainnya, seperti gempa, gunung meletus, hingga tsunami.
Namun
Wartika menjelaskan lebih lanjut bahwa ada juga beberapa hewan mamalia yang
tidak terpengaruh gerhana matahari, salah satunya landak. Dan Wartika juga
berasumsi, untuk beberapa golongan hewan yang aktif di siang hari tidak
semuanya terpengaruh. Begitupun golongan reptil seperti Kura-kura brazil,
Kura-kura ambon, Kura-kura sulawesi, Kura-kura papua, biawak, Phyton timor,
serta Viper hijau.
Hal ini terjadi
karena hewan tersebut hanya terpengaruh dengan perubahan suhu yang signifikan.
karena Suhu lingkungan memang biasanya menjadi faktor yang mempengaruhi
kelompok reptil. Karena tidak ada perubahan respon yang signifikan selama GMT,
LIPI berasumsi reptil tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan cahaya karena
perubahan cahaya yang terjadi juga tidak terlalu drastis.
Pelajar Hidayatullah Batam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar