Jumat, 29 April 2016

Fenomena Alam Gerhana Matahari

Gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer. Gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.


            Gerhana Matahari total, terjadi apabila saat puncak gerhana, piringan Matahari ditutup sepenuhnya oleh piringan Bulan. Saat itu, piringan Bulan sama besar atau lebih besar dari piringan Matahari. Gerhana sebagian, terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan Matahari. Pada gerhana ini, selalu ada bagian dari piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan Bulan. Gerhana hibrida, bergeser antara gerhana total dan Gerhana sebagian. Pada titik tertentu di permukaan bumi, gerhana ini muncul sebagai gerhana total, sedangkan pada titik-titik lain muncul sebagai gerhana cincin. Gerhana hibrida relatif jarang.
Melihat secara langsung ke fotosfer matahari (bagian cincin terang dari Matahari) dapat membahayakan, karena mengakibatkan kerusakan permanen retina mata akibat radiasi tinggi yang tak terlihat yang dipancarkan dari fotosfer. Kerusakan yang ditimbulkan dapat mengakibatkan kebutaan. Mengamati gerhana Matahari membutuhkan pelindung mata khusus atau dengan menggunakan metode melihat secara tidak langsung. Penggunaan kaca mata untuk menyaksikan gerhana tidak aman karena tidak menyaring radiasi inframerah yang dapat merusak retina mata. Karena cepatnya peredaran Bumi mengitari matahari, gerhana matahari tak mungkin berlangsung lebih dari 7 menit dan 58 detik, sehingga pengamatan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin.
Pada hari rabu, (9/03/2016) di Indonesia tepatnya di kepulauan riau batam, khususnya tanjung uncang pondok pesantren Hidayatullah kampus 2, para segenab keluarga pesantren melakukan shalat Gerhana Matahari. Alhamdulillah keluarga besar dapat melihat gerhana tersebut meskipun hanya sebagian matahari yang tertutup. Hal ini dapat dikatakan bahwa gerhana yang terjadi ialah Gerhana cincin, terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan Matahari. Gerhana jenis ini terjadi bila ukuran piringan Bulan lebih kecil dari piringan Matahari. Sehingga ketika piringan Bulan berada di depan piringan Matahari, tidak seluruh piringan Matahari akan tertutup oleh piringan Bulan. Bagian piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan Bulan, berada di sekeliling piringan Bulan dan terlihat seperti cincin yang bercahaya.
Yang terjadi di wilayah Indonesia, Rabu (9/3/2016), ternyata bisa mempengaruhi tingkah laku binatang. Berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di penangkaran hewan Cibinong Science Center (CSC), Cibinong, Jawa Barat, beberapa hewan menunjukkan perilaku abnormal seperti terkena tipuan malam.
Jenis-jenis hewan diamati dalam penelitian ini adalah binatang dari kategori nokturnal, atau yang aktif pada malam hari, dan diurnal, atau yang aktif pada siang hari. Pengamatan perilaku satwa ini berlangsung mulai pukul 05:00 hingga 09:00 WIB dengan penurunan suhu 1 derajat pada saat terjadi gerhana --dari 25 derajat celsius ke 24 derajat celsius-- dan kelembaban udara yang naik dari 80 persen menjadi 91 persen. "Satwa-satwa yang kami amati di antaranya kelompok mamalia kecil, kelompok burung paruh bengkok, serta binatang melata atau herpetofauna," ujar Hari Sutrisno, Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, pada laman resmi lembaga penelitian tersebut.
Hewan nokturnal jenis kukang ternyata menjadi yang paling terpengaruh saat gerhana matahari. Pada pengamatan pukul 05:00 WIB, kukang masih beraktivitas. Memasuki pukul 05.30 WIB, saat cahaya matahari mulai muncul, kukang mulai berhenti beraktivitas dan pukul 06.00 WIB, kukang masuk ke sarangnya untuk beristirahat. Namun, pada saat fenomena gerhana matahari mulai terjadi, kukang bereaksi kembali. "Pukul 07.30, di sini terlihat kukang kembali bangun dan terlihat terjaga menoleh kanan kiri, diduga karena adanya pengaruh pengurangan cahaya," ujar peneliti LIPI Bidang Laboratorium Nutrisi dan Penangkaran Satwa Liar Pusat Penelitian Biologi LIPI, Wartika Rosa Farida, kepada Kompas,Rabu (9/3/2016).
Spesies burung juga mengalami perubahan perilaku. Mereka tampak mencari perlindungan ketika gerhana matahari terjadi. Penyebabnya adalah suasana menjadi seperti malam hari sehingga burung-burung pun menghentikan aktivitasnya.
Salah satu contoh adalah dari jenis burung Maleo yang teliti oleh tim dari Taman Nasional Lore Lindu dan Kawasan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Burung betina terlihat diam saat GMT terjadi dan Maleo jantan terbang menghampiri rumahnya.
Insting, menurut Wartika, memegang peranan utama dalam tingkah laku ini. Ketika gerhana, langit akan terlihat gelap menyerupai malam sehingga hewan diurnal langsung beristirahat. Sinar matahari menjadi seperti alarm tubuh atau jam biologis bagi hewan untuk beraktivitas. Perubahan perilaku binatang juga bisa dijadikan sebagai tanda untuk mengetahui peristiwa alam lainnya, seperti gempa, gunung meletus, hingga tsunami.
            Namun Wartika menjelaskan lebih lanjut bahwa ada juga beberapa hewan mamalia yang tidak terpengaruh gerhana matahari, salah satunya landak. Dan Wartika juga berasumsi, untuk beberapa golongan hewan yang aktif di siang hari tidak semuanya terpengaruh. Begitupun golongan reptil seperti Kura-kura brazil, Kura-kura ambon, Kura-kura sulawesi, Kura-kura papua, biawak, Phyton timor, serta Viper hijau.

Hal ini terjadi karena hewan tersebut hanya terpengaruh dengan perubahan suhu yang signifikan. karena Suhu lingkungan memang biasanya menjadi faktor yang mempengaruhi kelompok reptil. Karena tidak ada perubahan respon yang signifikan selama GMT, LIPI berasumsi reptil tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan cahaya karena perubahan cahaya yang terjadi juga tidak terlalu drastis.

Pelajar Hidayatullah Batam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nikah Itu Setepatnya, Bukan Secepatnya

    Nikah Itu Setepatnya, Bukan Secepatnya Oleh : Ameliya Binti Yusuf *) Dilema yang dirasakan para pemuda hari ini adalah ketika ia dit...