Rabu, 09 Desember 2020

Nikah Itu Setepatnya, Bukan Secepatnya

 

 

Nikah Itu Setepatnya, Bukan Secepatnya

Oleh : Ameliya Binti Yusuf *)

Dilema yang dirasakan para pemuda hari ini adalah ketika ia ditanya kapan Nikah? Kapan punya anak? Kapan si kakak punya adek? Kapan punya menantu? Kapan punya cucu?. Hingga akhirnya tidak sedikit dari mereka berkeinginan menikah muda.

Tidak sampai disini, bahkan ada juga dari kalangan pemuda tertimpa malah sebaliknya. Mereka yang sudah siap secara mental jasmani dan rohani ingin menikah, terhalangi oleh berbagai faktor. Dan dari beberapa faktor yang terbesar adalah, ketidakyakinan dari orang tua, baik dari segi finansial, faktor pendidikan, maupun karena umur yang sangat masih dini. Lebih tepatnya menikah muda.

Adapun pandangan islam untuk orang tua melarang anaknya menikah bisa jadi diperbolehkan, namun juga bisa haram. Hal itu bergantung pada alasannya.

  1. Diperbolehkan

Orang tua memang mempunyai hak untuk menolak atau menerima calon menantunya. Namun demikian, penolakan harus didasari oleh alasan-alasan yang jelas dan syar’i. Misalnya saja:

  • Tidak seagama (non muslim).
  • Ada hubungan mahram.
  • Akhlaknya buruk (pemabuk, penjudi, pencuri, pembunuh).
  • Apabila laki-laki, jika ia belum mempunyai pekerjaan sama sekali (pegangguran) maka boleh ditolak. Sebab dikhawatirkan tidak sanggup menafkahi. Namun jika si lelaki telah memiliki pekerjaan walaupun hanya serabutan maka hal itu tidak boleh dijadikan asalan penolakan.
  • Anak belum cukup umur.
  • Anak masih sekolah.

Dengan alasan-alasan diatas orang tua boleh saja melarang anaknya menikah. Namun sebagai gantinya, jika anak perempuan maka harus dicarikan jodoh lain yang lebih baik. Dan jika laki-laki diberikan kesempatan untuk bertaaruf dengan perempuan lain.

  1. Haram

Apabila si anak telah mencapai usia yang matang (dewasa), sudah mampu secara finansial dan mental, maka orang tua wajib menikahkan anaknya. Terlebih lagi jika si anak telah memiliki calon maka tidak boleh orang tua melarang hanya karena alasan duniawi. Misalnya saja:

  • Faktor harta kekayaan
  • Pekerjaan yang dianggab kurang mapan
  • Gelar dan jabatan
  • Paras wajah dan bentuk fisik dan sebagainya.

 

Lalu Kemudian Batas atau Waktu Menikah Itu Kapan?

Menurut UU No. 16 Tahun 2019 sebagai perubahan atas UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terkait batas usia menyebutkan batas usia perkawinan antara laki-laki dan perempuan adalah sama, yaitu 19 tahun. Berbeda dengan UU sebelumnya yang memiliki  batas usia perkawinan laki-laki (19 tahun) dan perempuan (16 tahun).

Perubahan ini dilakukan agar sejalan dengan UU Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa di bawah usia 18 tahun masih tergolong anak-anak. Batas usia perkawinan antara perempuan dan laki-laki disamakan sebagai bentuk mencegah diskriminasi dalam hak membentuk keluarga.

Saat ini, batas usia perkawinan adalah 19 tahun. Usia 19 tahun telah memasuki fase remaja akhir, dimana struktur dan pertumbuhan reproduktif hampir komplit dan telah matang secara fisik. (Babubara, JRL., 2010).

Ketentuan di atas menurut penulis cukuplah bijak. Batasan usia di atas telah cocok dengan kondisi Indonesia. Akhirnya orang tua berperan penting dalam pembilan sikap anaknya, apakah telah memenuhi tiga ketentuan di atas atau tidak. Wallahu a’lam. 

Adapun di dalam pandangan islam, tidak ada batasan seseorang menikah kapan. Tentunya, setelah orang tersebut baligh, mampu bekerja, dan berkecukupan bisa untuk menjalankan pernikahan atau melaksanakan keluarga. Untuk itu, menikah muda dalam islam hukumnya halal atau boleh selagi dalam rukun pernikahan yang sah dan sesuai dengan syarat-syaratnya.

Terdapat beberapa dalil Al – Qur’an tentang pernikahan, diantaranya:

 “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Ar-Ruum: 21)

Dikutip dari bincangsyariah.com, sebenarnya tidak disebutkan secara pasti batas minimum usia pernikahan dalam Islam. Yang ada hanya ukuran kemampuan untuk menikah. Seperti disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Mas'ud RA yang mendengar Rasulullah Muhammad SAW bersabda demikian.

" Hai pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu maka menikahlah. Menikah itu menundukkan pandangan dan lebih baik untuk kemaluan. Namun siapa yang belum mampu maka hendaknya ia puasa, karena itu lebih baik baginya."

Juga dalam hadis riwayat An Nasa'i dari Maqbal bin Yasar RA, dari Rasulullah SAW.

" Nikahilah oleh kalian yang subur dan yang cinta, karena aku ingin banyak keturunan (di akhirat)."

Pesan Rasulullah Saw. di atas adalah menikah kepada yang subur dan memiliki cinta kasih. Bahkan dalam sebuah kisah, Rasulullah Saw sampai tiga kali menolak seorang pemuda yang ingin menikah tapi tidak memenuhi ketentuan di atas.

Berdasarkan penjelasan di atas, usia ideal untuk menikah adalah ketika telah mampu secara finansial, walaupun menikah tidak harus kaya. Kedua adalah siap secara mental. Yakni memiliki kesanggupan untuk menerima beban baik jadi suami maupun menjadi istri. Terakahir adalah memiliki kesiapan secara biologis. Sedangkan batasan usianya sangat tergantung pada masing-masing orang.

Jadi Nikah Itu Setepatnya Bukan Secepatnya. Wallohu A’lam bi ash-Shawab.

*) Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Pendidikan Indonesia STIBA ARRAYAH

Referensi:

#https://bincangsyariah.com/kalam/usia-ideal-menikah/

#https://www.dream.co.id/orbit/usia-yang-pas-menikah-menurut-islam-180710x.html

#https://yoursay.suara.com/lifestyle/2019/12/16/135256/berapakah-usia-ideal-untuk-menikah?page=all

#https://dalamislam.com/hukum-islam/pernikahan/menikah-muda-menurut-islam

Jumat, 10 April 2020

Berjuang Tuk Berbagi.



Pada zaman yang gersang ini, di mana jiwa-jiwa telah rusak, ruh menjadi kering, cahaya hati telah padam, bara api keimanan yang menerangi hati telah redup, sujud pun tak khusuk dan kata-kata hikmah tak lagi mampu menembus hati untuk memberikan pengaruh positif. Seperti yang kita sudah sangat ketahui, yang menguasai media sosial adalah musuh-musuh kita, yang dimana kita lihat hampir seluruh manusia menjadikan kiblat nomor satu dalam kehidupan mereka. Sadar tidak sadar kita sudah di serang balik oleh mereka. Ummat muslim sekarang bahkan anak-anak yang belum cukup umur sudah sangat menikmati dan menguasai dengan apa yang musuh-musuh kita ciptakan. Diantaranya seperti; Tv, Majalah, Internet, Hp, dan masih sangat banyak lagi.
Ada suatu fenomena yang mungkin semua diantara kita melihatnya, yaitu fenomena perpecahan yang terjadi diantara umat islam. Salah-satunya penyebab perpecahan itu adalah Budaya. Di zaman sekarang kalau kita melihat budaya sangat menggilat sekali, yang terkadang budaya itu tidak sesuai dengan syariat Allah SWT, bahkan bertentangan dengan syariat Allah SWT yang mengandung kesyirikkan, juga mengundang ritual-ritual. Maka apakah seorang muslim masih ingin mengikutinya?
“Maka berfikirlah wahai orang-orang yang berfikir’’
Kaum ziosme telah bertindak, sedang memerang umat muslim tanpa disadari, bahkan sedang mempersiapkkan ciptaan-ciptaan baru untuk memerangi umat muslim. Dan kalau sudah tahu demikian, masihkah kita ingin duduk saja menikmati dan berlarut-larut dengan ciptaan mereka? Tidak inginkah berjuang?
Buat kalian umat muslim khususnya para remaja, bangkitlah, berjuanglah dengan memanfaatkan ciptaan-ciptaan mereka. Yah … Menulislah!
Buktikan kalau kita umat muslim punya segudang ide dan inovasi, nggak cuman mereka musuh kita saja. Keluarkan kreativitas tanpa batas, kuasai media, kuasai dunia. Tidak ada alasan untuk tidak menulis, berjuang untuk menang bukan untuk berangan, karena Allah telah memberikan kemenangan. Menulislah! karena kamu akan melihat dunia. Menulis itu berjuang dan berbagi, dan juga bisa menganggkat kehidupan orang lain.
Apa kontribusi kita sebagai pemuda atau remaja untuk islam terhadap kebutuhan umat? Pemilik harta berlomba-lomba menyedekahkan hartanya, lalu apa kontribusi kita jika menulis saja tidak bisa? Menulis untuk umat, bukan hanya ingin jadi wartawan saja. Sebuah tulisan benar-benar punya kekuatan, tergantung mau dipakai untuk apa kekuatan itu. Kalau untuk berdakwah, maka pahala didapat.
Berdakwah tak hanya mesti terjun kelapangan, namun lewat tulisan juga salah-satu sarana yang tepat secara lembut untuk berdakwah. Tidak sedikit orang mendapatkan hidayah melainkan telah membaca dari sebuah tulisan. Percayalah!
Semua orang memiliki pengalaman masing-masinig, dan yang membedakannya hanyalah; ada yang membiarkannya berlalu begitu saja, ada yang mengambil pelajaran darinya, dan ada juga orang yang tak ingin menikmatinya seorang, namun ia akan membaginya untuk dijadikannya sebuah pelajaran yang berharga. Yah … dengan sebuah tulisan.
Ada seorang pepatah mengatakan;
“Sebesar apa kesedihanmu kareana akhirat, sebesar itu pula keinginan duniamu keluar  dari hatimu”
Maka dengan ini, seseorang yang bersedih karena akhiratnya, sebesar itu pula keinginan dunianya akan keluar. Menulis adalah salah-satu amalan dunia yang akan menjadi amalan pahala yang senantiasa mengalir buatmu diakhirat kelak. Karena jikalau seorang mukmin selalu terikat dengan akhiratnya, maka semua yang ada di dunia dia gerakkan untuk mengingat akhirat. (Setiap menekuni sesuatu, itulah yang menjadi pusat perhatiannya)
“Seorang mukmin apabila melihat kegelapan maka ia teringat akan gelapnya kuburan. Apabila melihat sesuatu yang menyedihkan maka ia teringat akan siksaan. Apabil mendengarkan sesuatu yang mengerikkan maka ia teringat akan tiupan sangkakala. Dan apabila melihat orang-orang tertidur maka teringat akan orang-orang yang mati didalam kuburan.” (Shaidul khatir, ibnu jauzi, hal 416)
Menulis merupakan berbagi, sebagaimana yang telah dijelaskan. Tulisan pun salah-satu bentuk amalan dari ilmu yang telah kamu dapat, juga merupakan suatu alat amal. Maka kalau orang menghabiskan umurnya hanya untuk mencari alat, lalu kapan dia beramal?
Salah seorang pendidik yaitu Abdul Qodir jailani berkata kepada anaknya,
“Nak, kepandain lisan tanpa diiringi amalan hati itu, tidak mendekatkanmu kepada kebenaran meskipun hanya selangkah. Nak, mengamalkan ilmu adalah cahaya ilmu, kejernihan yang paling jernih, permata dari segala permata dan intisarinya mengamalkan ilmu adalah menyehatkan hati dan mensucikannya. Ilmu tanpa amalan adalah salah-satu tanda istidraj.’’
Hamid ad-Daqqaq berkata:
“Apabila Allah menghendaki kebinasaan seseorang, maka dia menghukumnya dengan tiga hal, diantaranya; dia memberikan rezeki ilmu, namun tidak memberinya rezeki amalan para ulama” (Tanbih Al-Ghafiin, As-samarqondi, hal 13)
Maka dengan ini menulislah wahai Saudaraku yang senantiasa dinanti-nantikan Umat. Dengan menulis kita dapat melihat dunia, merubah dunia. Begitu juga sebuah tulisan dapat dikenang sepanjang masa. Mengapa demikian? Karena sebuah tulisan yang kita tulis, dapat membuka jalan keilmuan dari jalan kebodohan dengan izin Allah Swt pastinya.
Sayangnya saat ini kita lihat banyak orang-orang yang mementingkan kondisi awal dibandingkan perubahan. Mereka mengeluh bahwa mereka adalah korban system yang tidak islami, terlahir yatim piatu dan hanya berharap dari luar saja. Jarang sekali yang menyadari bahwa kebiasaan buruk merekalah yang membuat mereka selalu gagal, Kebiasaan buruklah yang memosikan diri sebagai korban, selalu mengeluh dan bermental pengemis. Sebuah keberuntungan adalah hasil pembiasaan diri. Ciptakan keberuntungan dengan kebiasaan baik, jangan hanya menunggu keberuntungan. Jangan berharap beruntung mendapatkan istri solehah bila kita tidak menciptakan kesempatan itu dan hanya menunggu takdir.
Patutlah kiranya seorang mukmin menyikapi peristiwa tarbiyah dikalangan ulama-ulama kita yang begitu banyak telah membukukan tulisan-tulisan mereka secara menarik dengan rasa kagum dan sedih. Kagum atas kemauan dan semangt yang tinggi untuk menulis serta penemuan metodologi tarbiyah yang tinggi, dan sedih karena melihat kondisi kita dan hasil tarbiyah yang selama ini kita peroleh, yaitu badan yang berat untuk beribadah, hati yang keras dan jiwa yang kering.
Segala sesuatu harus selalu disertai dengan niat yang tulus dan juga ikhlas. Begitupun pula dengan menulis harus disertai niat yang lurus juga ikhlas. Menulis untuk apa? Karena apa? Dan untuk siapa? Menulis sama halnya berkata atau menyampaikan sesuatu dengan tujuan maksud. Dan sebuah perkataan harus disertai dengan keikhlasan. Sebab hilangnya keikhlasan itu mematikan kata-kata yang keluar dan menguburnya dibawah tapak kaki.
 Ketika hamdun bin Ahmad ditanya, “Mengapa perkataan orang-orang salaf lebih bermanfaat dari perkataan kita?”
Beliau menjawab, “Karena mereka berkata untuk kemuliaan islam, keselamatan jiwa, dan mengharap ridha Allah, sedang kita berkata untuk kemuliaan diri sendiri, mencari dunia, dan mengharap ridha makhluk.” (Hilyatul Auliya-10/231) Nauzubillah min zalik.
“Kebenaran tidak akan berkuasa dalam kehidupan ini, kebaikan tidak akan tersebar, kalimat iman tidak akan menjadi tinggi, dan bendera kemuliaan tidak akan berkibar melalui para mabadi’ (Prinsip). Yaitu orang-orang yang beramal demi mengkeruk keuntungan dan meraup dunia. Semua itu juga tidak akan terjadi melalui orang-orang riya’, yang tidak beramal kecuali untuk dilihat dan didengar manusia, disebut-sebut dan semua telunjuk mengarah padanya.
Akan tetapi, kebenaran, kebaikan, dan iman akan menang melalui orang-orang yang ikhlas, selalu memegang prinsip, mampu memberi pengaruh dan bukan terpengaruh, mau berkorban bukan mengambil manfaat, dan memberi bukan mengambil.” (Fit Ath-Thariq ilallah; An-Niyah wal ikhlas, Dr Yusuf al-Qordowi, hal.96)
Penulis menaruh harapan:
Harapan agar lembaran-lembaran ini mampu memberi semangat lebih dalam berdakwah, karena dakwah tidak cukup hanya berceramah saja, namun khususnya mampu untuk merangkai kata-kata dan nasehat dalam sebuah tulisan, membangunkan jiwa yang masih terlelap, dan juga menjadi sarana untuk menunjukkan kita kepada amal sholeh amal jariyah in shaa Allah. Sebagaimana yang dikatakan Qois Bin Amru Al-Mulai, “Apabila sampai kepadamu suatu kebaikan maka kerjakanlah meskipun hanya sekali, maka engkau termaksud ahlinya.” (Shifatus Shafwah)
Menulislah saudaraku! Teruslah melangkah! selama engkau dijalan yang baik, meski terkadang kebaikan tidak senantiasa dihargai. Mulialah dari hal-hal sederhana disekitarmu yang terkadang bahkan tak terpikir orang lain.

                                                                                             Dari berbagai sumber
                                                                                              Huallahua’lam bishowab
     Penyusun: Amheliya Meong (أم هريرة)

Kamis, 14 November 2019

(Menjadi Pribadi yang lebih baik)


Membangun pribadi yang lebih baik


Membangun pribadi yang lebih baik memang bukan hal yang mudah saudaraku, namun hal ini menjadi tanggung-jawab kita bersama. Semua orang haruslah bangkit dan bersatu padu untuk melakukan sebuah gerakan dan tindakan dalam membangun pribadi yang lebih baik. Semua itu tentu haruslah bermula dari semangat, visi dan keteladanan yang ada pada dirimu saudaraku.
Al-Quran telah memberikan serangkain informasi dan petunjuk kepada umat manusia tentang siapa saja dan bagaimana menjadi manusia yang dinamis guna menggapai kesuksesan abadi menuju kemenangan hidup sejati.
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khuysuk dalam sholatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari yang tiada guna”
Maka pondasi utama sebagai modal dasar dalam membangun pribadi yang lebih baik itu haruslah kamu memiliki ketajaman dalam membangun visi ke depan tentang apa yang kamu akan capai saudaraku.
Saudariku … Disaat kamu  menginginkan masa depan, maka berfikirlah bahwa kamu telah berada di masa depan yang kamu cita-citakan itu, karena semuanya berawal di dalam pikiran kamu. 
What do you want exactly? Apa yang betul-betul kita inginkan? Bagi air akan senantiasa bergerak selama ada tujuan yang diberikan kepadanya. Apa yang terjadi bila air tidak memiliki tujuan? Ia akan menggenang, menjadi keruh dan berbau busuk. Tujuan yang jelas menciptakan gerakan, karena tujuan adalah daya tarik yang sangat kuat.
Saudariku … tidak memiliki tujuan yang pasti dalam hidup, sama seperti lari dalam lingkaran yang tak habis.
Saudaraku …
Dirimu akan lebih baik manakalah kamu mampu bersikap peka dalam tujuan hidupmu, lalu kemudian kamu mampu bersikap istiqomah dalam menampilkan kebiasaan terbaik yang mampu mengantarkan kamu sebagai pemimpin kehidupan, dan kehidupanmu sebenarnya dapat dilihat pada sejauh mana peran yang kamu mainkan di tengah-tengah kehidupanmu itu sendiri.
Dalam buku Akh. Muafik saleh telah menyebutkan tujuh kompetensi langkah utama, atau sikap-sikap yang mestinya dimiliki dalam membangun masing-masing kebiasaan yang dapat membuat dirimu lebih baik. in sha Allah.
1.      Ketajaman visi
Penetapan visi atau tujuan, optimisme, perencanaan, pencapain misi, motivasi, sukses masa depan
2.      Kompetensi diri
Konsep diri, pusat kesadaran, focus dan kualitas diri.
3.      Hidup efektif
Berfikir besar dan positif, komunikasi efektif, manajemen waktu, amal yang mengandung prestasi, diam emas.
4.      Kepekaan dan kepedulian sosial
Peka dan peduli, bersikap empati kepada orang lain, jeli dan cermat.
5.      Perubahan sosial
Semangat amar ma’ruf nahi mungkar, berani mengambil resiko, memberikan teladan terbaik, prinsip inilah saatnya, istiqomah dalam perubahan.
6.      Bertindak professional
Disiplin, sikap terpecaya, jujur dan terbuka, penuh tanggung jawab, memiliki keterampilan manajemen.
7.      Puncak kepemimpinan
Menjadi pribadi kharismatik, canggih dalam berinteraksi, tepat dalam mengambil keputusan, mampu memotivasi, team work.

Saudaraku …
            Tidak ada yang mustahil di dunia ini jika Allah menghendaki. Rendah hati boleh, namun jangan sampai menurunkan martabat diri. Tanamkan dalam hati kecilmu bahwasannya kamu bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.
"إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيرما بأنفسهم"
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum, sampai hambanya itu berusaha mengubahnya”
Tinggalkan masa lalu saudaraku, jangan habiskan waktumu karena hanya sesali apa yang telah terjadi. Bangkitlah sekarang, dan jangan habiskan waktumu karena hanya memikirkan apa yang akan kamu lakukan besok. Namun pikir dan habiskanlah pekerjaanmu yang sekarang. Karena kamu yang dimasa akan datang, kamu yang sekarang ini, dan kamu yang sekarang ini adalah kamu yang kemarin. So … Life is choise saudaraku. Hidupmu adalah amanat dari sang pencipta, maka pergunakanlah ia dengan sebaik mungkin, karena dirimulah juga yang akan menolongmu di akhirat kelak jika dirimu adalah orang baik.
Saudaraku …
Betapa indahnya dan beruntungnnya jika dirimu adalah orang baik, karena orang yang baik itu akan menjadi sosok pribadi yang sangat dirindukan. Dan betapa beruntungnya jika dirimu memiliki kebiasaan yang baik, karena orang yang memiliki kebiasaan baik akan selalu melahirkan suasana positif.
Semua orang akan mendekatimu, menyukaimu bahkan tidak sungkan untuk meminta bantuanmu. Ingatlah saudaraku, mengalah itu bukan berarti kalah, namun itu adalah sebuah kemenangan terbesar, mengapa demikian? Karena tidak semua orang bisa melakukannya.
Maka dengan hal ini wahai saudaraku, tentu akan menjadi sumber motivasi tersendiri dalam diri kita untuk mengerjakan tugas dengan lebih baik dan muncul semangat sense of belonging, in sha Allah dengan izinnya.
So … jadilah pribadi yang baik! Baik kamu maupun aku.
Huallahua’lam

Penyusun: Ameliya Binti Yusuf









Rabu, 20 Maret 2019

Pemimpin Yang Dinantikan


Pemimpin Yang Dinantikan

Suara gaduh, upaya menggoyang kekuasaan menjelang pemilu menjadi ciri khas pemerintah saat ini. Yang memegang kuasa uang ia akan mampu mengendalikan media, masyarakat sipil dan faktor lainnya untuk mengubah pemerintahannya.
Sisi lain, pihak berkuasa tentunya akan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, termasuk mengenakan aparat dan memperdayakan masyarakat. Kini Rakyat layaknya kendaraan politik menuju kekuasaan.
Pemilu presiden di bulan April 2019 nanti, membuat gemuruh hati masyarakat Indonesia. Berbagai isu-isu calpres maupun walpres yang ada serta perdebatan yang diadakan kemarin, masyarakat lagi-lagi bingung, manakah yang lebih layak dan tepat akan menjadi pemimpin Indonesia nantinya selama lima tahun kedepan,? Dan lima tahun itu tidak cepat.   
Tahun 2018 adalah saksi bukti kerusakan-kerusakan dan musibah yang ada, datang silih berganti di Indonesia. Masyaraat telah diperbodohi oleh pikiran-pikiran liberal, sehingga mereka mengatakan bahwasanya bencana yang datang tidak ada sama sekali keterkaitannya dengan maksiat yang mereka lakukan. Padahal dapat dikatakan bahwasannya inilah sebab awal mulanya kerusakan terjadi. Penjajahan itu tidak senantiasa berupa fisik, melainkan dapat pula berupa pemikiran dan serangan.
Sebagaimana Rasulullah SAW. mengatakan serta mengingatkan yang dalam artinya
(Jika ada suatu kaum yang hancur, itu di akibatkan oleh pemimpinnya yang hancur pula. Dan Negara akan baik, jika pemimpinnya juga baik. )
Masyarakat Indonesia kehausan sosok pemimpin yang adil, kuat, berpengetahuan baik dan bijaksana. Maka dari sini, tidak heran dan salah jika kita harus berhati-hati dalam pemilihan pemimpin di Negeri kita yang tercinta dan didambakan khususnya kaum Muslimin.
Ketahuilah, jika ingin bahagia dan untuk tidak ragu dalam sesuatu, maka kita jadikan pesan Rasulullah SAW. sebagai dasar keputusan, karena disitulah kita akan menemukan ketenangan.
Maka dari itu untuk tidak ragu dalam memilih pemimpin, berikut terdapat tujuh syarat dalam pandangan islam bagi seorang yang akan memangku jabatan kepala Negara. Yaitu :
1)      Pertama, dia adalah seorang Muslim. Maka tidak sah bagi orang kafir menjadi kepala Negara menurut syariah Islam. Karena Allah Ta’ala berfirman:
‘‘wa lan yaj’alallahu lilkafirina ’alal mukminin sabila’’
(Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menghanurkan orang-orang mukmin.) (Q.S.An-Nisa’: 141)
Pemerintah adalah jalan yang paling mudah bagi penguasa untuk menghanurkan orang yang dikuasainya. Maka dalam Islam larangan yang tegas agar orang kafir sama sekali tidak menguasai pemerintahan atas umat Islam.
2)      Kedua, dia adalah seorang laki-laki. Maka tidak boleh seorang perempuan. Rasulullah SAW bersabda:
‘‘Tidak akan beruntung, suatu kaum yang memberikan kekuasaan kepada seorang perempuan.’’
Artinya, dia harus seorang laki-laki.
3)      Ketiga, dia adalah seorang baligh. Maka tidak boleh seorang anak-anak.
4)      Keempat, dia adalah orang berakal. Tugas kepala Negara menurut syariah Islam adalah menjalankan pemerintahan serta melaksanakan taklif-taklif syar’i. sehingga, tidak sah jika dia gila.
5)      Kelima, dia adalah orang yang adil. Maka tidak sah jika dia adalah orang fasik. Karena keadilan merupakan syarat yang harus ada bagi seorang kepala Negara.
6)      Keenam, dia adalah orang yang merdeka. Karena budak tidak berhak mengatur dirinya sendiri. Apatah lagi mengurus orang lain.
7)      Ketujuh, dia adalah orang yang mampu mengemban tugas-tugas kepala Negara. Sehingga, bagi seorang yang tidak mampu mengemban tugas-tugas kepala Negara tidak sah menjadi kepala Negara.
Tidak ada kata lain, selain selalu berusaha dan berdoa untuk pemimpin yang didambakan dan yang dinantikan untuk negeri ini.
اللهم أصلح ولاة أمورنا. اللهم وفقهم لما فيه صلاههم و صلاح الإسلام والمسلمين
(Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin.)


Selasa, 25 Desember 2018

Diet Berpahala




   Banyak wanita yang ingin memiliki tubuh yang sehat, indah dan langsing. Apalagi anak–anak yang telah beranjak remaja, biasanya performance telah jadi hal nomor  satu. Tak jarang pun dari mereka yang pergi ke dokter minta obat kurus, sampai ngambek makan meski perut keroncongan dan lambung melilit butuh diisi. Diet bukan berarti rela tidak makan. Wajib makan. Namun, jangan berlebihan, karena sikap berlebihan termaksud sifat salah-satu syaiton dan Allah tidak menyukai sifat tersebut.

 Dan di dalam Al-Qur’an sangat jelas di terangkan sifat orang yang suka berlebih-lebihan khususnya dalam hal makanan.

  (Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid. Makan dan minumlah, dan jangalah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.) (Q.S Al-A’raaf: 31)

Sebagaimana Rasulullah Saw, menganjurkan kita beberapa suap makanan untuk meneggakkan tubuh, namun berhenti makan sebelum kenyang. 
Dalam hadits Rasulullah Saw, Berkata:
Sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumnya dan sepertiga terakhir untuk udaranya. ((رواه ااترميذ

Melakukan diet salah satu cara yang dilakukan wanita untuk menghilangkan lemak di tubuhnya dan mendapatkan tubuh yang ideal. Namun sayangnya, tak semua orang menjalankan diet yang benar dan sehat. Ketahuilah bahwa diet yang salah bisa berakibat fatal. Anda bisa mengalami gangguan kesehatan, berat badan bisa tinggal tulang dan bahkan bisa naik. Lalu, bagaimana sebenarnya menjalankan diet yang sehat dan benar?

Sebenarnya dalam islam tidak mengenal diet. Karenadiet sama halnya menzholimi diri sendiri. Namun, setelah diteliti ternyata salah-satu amalan sunnah Rasulullah SAW. Yakni  صوم (puasa), adalah solusi diet yang paling pas. Selain bernilai pahala, tidak bermodal, dan ampuh! 

 Puasa merupakan metode terbaik untuk diet yang sehat dan alami. Karena puasa dapat membakar ribuan kalori. Mengapa hal demikian bisa? Subhanallah Allah selain memberi perintah puasa, bukan berarti tidak ada konsekuensi manfaat yang besar, seperti berikut. Puasa meningkatkan proses eliminasi dan meningkatkan pelepasan racun dari usus, ginjal, dan kandung kemih, paru–paru, dan saluran pernapasan, sinus, dan kulit. System kerja tubuh bisa beristirahat, meningkatkan kecepatan pemulihan tubuh.

 Energi yang biasanya dikeluarkan pada proses pencernaan dibebaskan sehingga bisa fokus meningkatkan kesehatan, vitalitas, dan mempertajam fungsi pikiran. Energi jadi lebih tinggi, lebih konsentras dan lebih besar kesadaran spiritual, serta lebih mentalnya. Puasa bisa menjadi obat untuk sejumlah masalah kesehatan, seperti gangguan pencernaan, fungsi usus, kelebihan lemak perut, ketegangan otot–otot punggung, alergi, dan sinus. Puasa membantu membersihkan tubuh dari cairan lender yang berlebihan. Puasa merupakan juga metode baik untuk mengatasi kecanduan kopi, merokok, obat-obatan. Puasa merupakan katalisator bagi perubahan dan perkembangan pribadi serta motivator ampuh untuk menghentikan kebiasaan yang tidak sehat. Dan yang paling inti puasa adalah metode terbaik untuk diet yang sehat dan alami. Ramadhan-liputan6.com

Mari, kita mulai kebiasaan mulia dan berjuta manfaat ini.

Salah satu amalan puasa yang tepat untuk diet adalah puasa senin-kamis. Puasa senin-kamis cukup banyak diamalkan oleh kaum muslim. Selain sifatnya yang rutin, puasa ini juga tidak memberatkan. Mengapa yang di pilih hari Senin dan Kamis?

Rasulullah Saw menerangkan soal keutamaan dua hari ini:

“Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus sebagai nabi atau hari diturunkannya Al-Qur’an kepadaku”

Banyak hal yang akan kita dapatkan kalau mengamalkan puasa Senin-Kamis. Selain kita akan dapat pahala yang berlipat ganda, ampunan dosa, kemudahan dan kelancaran hidup, kita juga akan mendapat manfaat lain yang luar biasa, yakni mempertajam kecerdasan, memberikan ketenangan jiwa, dan pasti tentunya menyehatkan badan.

Selamat mencoba, dan semoga bermanfaat!?  InsyaAllah

-Amheliya Yusuf

Sabtu, 28 Mei 2016

Ramadhan keren


TIGA PERSIAPAN RAMADHAN KEREN UNTUK REMAJA
Sabtu, 28 Mei 2016 – 10:00 WIB

Jadi remaja berkualitas pasti jadi cita-cita kita semua. Punya prestasi di sekolah atau kampus yang tak terkalahkan, jadi serotan kapan dan dimana saja, jadi contoh ideal bagi teman-teman sebaya lainnya. Tapi ingat, dalam ibadah pun kita harus membuat prestasi yang nggak kalah keren.

Mengingat Bulan Ramadhan tidak lama lagi, menjadi sebuah kenikmatan dan kegembiraan jika kita bisa sampai ke bulannya. Namun sayang kegembiraan menyambut Ramadhan yang dilakukan oleh sebagian besar umat Islam terkhusus para remaja hanya sebatas seremonial atau pencitraan diri agar dipandang tetangga. Tidak jarang kita melihat para remaja dari zaman ke-zaman, mereka hanya memanfaatkan bulan yang suci ini untuk bersenang-senang, berkumpul dengan pasti dalam hal tidak baik, bahkan  balapan liar menjadi adat kebiasaan yang biasa dilakukan setelah shalat subuh. Nauzubillah

Nah! Jika ingin berbangga hati dan menjadi remaja berkualitas, segerahlah manfaatkan bulan ini dengan sebaiknya. Karena kenapa??? Tahukah kalian Setiap amal anak Adam di bulan Ramadhan, untuknya satu kebaikan dibalas 10 kali lipat bahkan sampai 700 lipat. Subhanallah



Oleh: Amheliya Yusuf
MARHABAN yaa Ramadhan. Kegembiraan membuncah menyambut datangnya Ramadhan, bulan penuh berkah dan penuh kemuliaan.

Ramadhan yang suci, yang sebentar lagi akan kita temui menjadi bulan untuk membumi-hanguskan berbagai dosa dan maksiat selama kurang lebih setahun berlalu. Selain itu, Ramadhan adalah bulan di mana diwajibkannya orang-orang yang beriman untuk berpuasa, sekaligus menjadi ajang menempa diri untuk meraih gelar Muttaqin. Wajar bila kemudian umat Islam di berbagai penjuru dunia, dari dahulu hingga akhir nanti, dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalllam untuk bergembira menyambut kedatangan Ramadhan.

Ramadhan merupakan bulan mulia karena mengandung perintah Allah dan seruan Rasulullah untuk berpuasa wajib sebulan penuh. Pada bulan ini juga wahyu Allah yang berupa ayat-ayat Al-Quran diturunkan ke muka bumi. Rasulullah selalu memberi kabar gembira kepada para Sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan. Beliau bersabda, “Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu juga dibukakan pintu Surga serta ditutupnya pintu-pintu Neraka…” (Riwayat Ahmad).

Demikian halnya para Sahabat dan tabi’in di zaman Rasulullah maupun sesudahnya, mereka senantiasa bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Sebagaimana Mulla bin al-Fadhel pernah menyatakan bahwa perilaku para salaf sholeh terhadap kemuliaan Ramadhan adalah mereka selalu berdoa dan memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat bertemu Ramadhan dan memohon selama enam bulan agar amal ibadahnya selama Ramadhan diterima Allah Subhanahu Wata’ala.

Namun apa yang terjadi para Remaja ini, kegembiraan menyambut Ramadhan yang dilakukan oleh sebagian besar umat Islam terkhusus Remaja hanya sebatas seremonial atau pencitraan diri agar dipandang tetangga. Banyak orang yang mengaku Islam justru merasa sesak dengan hadirnya Ramadhan yang mewajibkan umat Muslim berpuasa sebulan penuh tersebut. Karena Ramadhan dianggap sebagai belenggu bagi kebebasan orang-orang tersebut. Belenggu yang dimaksud misalnya mereka dilarang makan, dilarang minum dan tidak boleh melakukan hal-hal yang membatalkan puasa lainnya.

Dari uraian tersebut, satu hal yang mesti ditekankan adalah bagaimana agar meraih sukses ibadah puasa selama Ramadhan. Puasa Ramadhan merupakan perintah wajib bagi seluruh umat Islam yang telah dewasa (baligh) dan tidak memiliki uzur untuk menunaikannya. Puasa adalah ibadah yang cukup berat karena  melibatkan rohani dan jasmani secara bersinergi, tanpa melepaskan unsur teknis personal maupun sosial. Ibadah puasa tidak seperti ibadah wajib lainnya yang dapat dilihat bahkan diukur atau dinilai secara kasat mata.

Misalnya shalat, dengan begitu mudah kita dapat mengetahui seseorang yang sedang mengerjakan shalat dan yang tidak pernah shalat. Begitu juga halnya dengan orang-orang yang berzakat dan yang belum membayar zakat. Dengan kasat mata, kita dapat mengetahui dan mengukur keimanan orang-orang yang pelit atau kikir dalam membelanjakan hartanya di jalan Allah. Kita juga dapat membedakan orang yang sedang menjalankan ibadah haji atau sekedar plesiran.

Berbeda dengan puasa, ibadah puasa adalah ibadah rahasia yang hanya diketahui oleh Allah dan orang yang melakukannya. Amal ibadah puasa akan langsung dinilai oleh Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis Qudsi yang menyatakan bahwa setiap amal anak-cucu nabi Adam akan kembali pada dirinya masing-masing, kecuali puasa. Puasa itu untuk Allah dan Allah juga yang menanggung pahalanya.

Persiapan Meraih Sukses Ramadhan
Persiapan menyambut bulan puasa tidak hanya bersifat material semata, namun juga harus didukung oleh konsep spiritual yang benar-benar terprogram. Dengan kata lain, semaksimal mungkin kita harus mempersiapkan diri dan rohani untuk menyongsong datangnya bulan Ramadhan. Banyak hal yang mesti dipersiapkan sebelum kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, agar ibadah puasa kita tidak percuma. Sebagaimana peringatan dari Rasulullah, bahwa: “Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.”(HR. Ahmad).

Banyak hal yang telah dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam dalam rangka menyambut Ramadhan demi meraih kualitas terbaik selama beribadah di bulan Ramadhan. Etika menyambut Ramadhan harus benar-benar dijaga agar tidak merusak amalan selama menunaikan ibadah puasa dan ibadah lainnya. Beberapa hal yang semestinya kita prioritaskan sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadhan di antaranya:

Berniat dan Berdoa.
Sesungguhnya baik buruknya amal seseorang terletak pada niatnya. Dengan niat yang benar dan ikhlas karena mengharap ridho Allah maka insya Allah puasa kita akan berkualitas. Setelah memiliki niat yang benar, maka berdoalah kepada Allah, memohon untuk dijaga hati dan diri kita agar benar-benar siap menyambut bulan Ramadhan. Tentunya dengan doa kita juga berharap Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan sehat dan kuat baik jasmani dan rohani, serta memiliki semangat beribadah. Rasulullah pernah berdoa, “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).

Meningkatkan Khazanah Keilmuan.
Setiap Muslim diwajibkan membekali diri dengan ilmu ketika hendak beribadah kepada Allah. Harapannya agar amal ibadah yang dilakukannya sesuai dengan tuntunan Islam. Terkhusus buat remaja. Kalian bisa memanfaatkan momen ini dengan berkumpul sama teman dengan membuat halaqoh di masjid missal. Demikian halnya ibadah di bulan Ramadhan terutama puasa, kita harus mengetahui rukun dan hal-hal yang dapat merusak ibadah puasa. Perintah berilmu juga merupakan perintah Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Anbiya’ [21]: 7,

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Artinya:  “Maka bertanyalah pada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.”

Mensucikan Diri.
Logikanya, ketika seseorang menyambut tamu penting misalnya pejabat atau orang-orang yang dihormati. Tentu ia harus bersih diri, tempat dan lingkungan sekitarnya. Demikian halnya Ramadhan, bulan yang dimuliakan Allah dan Rasulullah tersebut. Seharusnya kita membersihkan diri dari segala dosa dan meninggalkan segala maksiat untuk menyambut kedatangan Ramadhan, bulan penuh berkah ini.

Betapa rugi orang-orang yang berpuasa menahan lapar dan dahaga, tetapi dirinya masih berbuat maksiat. Sebagaimana dalam haditsnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, ”Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya maka tidak ada bagi Allah kepentingan terhadap puasa (yang sekedar meninggalkan makan dan minum.” (Riwayat Bukhari).

Menyusun Program Kebaikan. Dalam meraih sukses tentu diperlukan rencana-rencana cerdas dan matang. Inilah yang juga diperlukan setiap Muslim yang ingin meraih sukses ibadahnya, terlebih khusus ibadah di bulan Ramadhan. Sudah menjadi tradisi setiap Ramadhan akan terdapat peningkatan aktivitas keislaman. Di mana-mana banyak diselenggarakan kajian-kajian Islam, gerakan sosial sedekah dan zakat, sholat sunnah berjamah dan ibadah lainnya.

Agar kita dapat menunaikan semua itu tanpa meninggalkan kewajiban pribadi, maka perlu sekali untuk menyusun program selama Ramadhan. Tentu program-program yang baik dan bernilai manfaat seperti menyiapkan takjil berbuka bagi orang lain, aktif mengikuti kegiatan di masjid sekitar, menyantuni anak-anak yatim dan kaum dhuafa, memperbanyak bersilaturrahim, mengadakan kajian-kajian yang membahas seputar keutamaan Ramadhan dan program lainnya.

Demikianlah beberapa hal yang semestinya menjadi etika kita ketika menyambut datangnya bulan penuh berkah ini. Tujuannya semata-mata demi meraih ridho Allah karena kita dapat mengisi bulan Ramadhan dengan amal ibadah yang maksimal dan dapat mengambil manfaatnya. Semoga kita dapat menyelesaikan ibadah di bulan Ramadhan ini dengan predikat terbaik di hadapan Allah dan kita dijauhkan dari hal-hal yang membuat ibadah kita sia-sia.

“Berapa banyak orang yang berpuasa, hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Dan berapa banyak orang yang mendirikan shalat malam hanya mendapatkan begadang saja.” (HR. An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hubban).*

Santri Hidayatullah Batam




Nikah Itu Setepatnya, Bukan Secepatnya

    Nikah Itu Setepatnya, Bukan Secepatnya Oleh : Ameliya Binti Yusuf *) Dilema yang dirasakan para pemuda hari ini adalah ketika ia dit...