Kamis, 14 November 2019

(Menjadi Pribadi yang lebih baik)


Membangun pribadi yang lebih baik


Membangun pribadi yang lebih baik memang bukan hal yang mudah saudaraku, namun hal ini menjadi tanggung-jawab kita bersama. Semua orang haruslah bangkit dan bersatu padu untuk melakukan sebuah gerakan dan tindakan dalam membangun pribadi yang lebih baik. Semua itu tentu haruslah bermula dari semangat, visi dan keteladanan yang ada pada dirimu saudaraku.
Al-Quran telah memberikan serangkain informasi dan petunjuk kepada umat manusia tentang siapa saja dan bagaimana menjadi manusia yang dinamis guna menggapai kesuksesan abadi menuju kemenangan hidup sejati.
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khuysuk dalam sholatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari yang tiada guna”
Maka pondasi utama sebagai modal dasar dalam membangun pribadi yang lebih baik itu haruslah kamu memiliki ketajaman dalam membangun visi ke depan tentang apa yang kamu akan capai saudaraku.
Saudariku … Disaat kamu  menginginkan masa depan, maka berfikirlah bahwa kamu telah berada di masa depan yang kamu cita-citakan itu, karena semuanya berawal di dalam pikiran kamu. 
What do you want exactly? Apa yang betul-betul kita inginkan? Bagi air akan senantiasa bergerak selama ada tujuan yang diberikan kepadanya. Apa yang terjadi bila air tidak memiliki tujuan? Ia akan menggenang, menjadi keruh dan berbau busuk. Tujuan yang jelas menciptakan gerakan, karena tujuan adalah daya tarik yang sangat kuat.
Saudariku … tidak memiliki tujuan yang pasti dalam hidup, sama seperti lari dalam lingkaran yang tak habis.
Saudaraku …
Dirimu akan lebih baik manakalah kamu mampu bersikap peka dalam tujuan hidupmu, lalu kemudian kamu mampu bersikap istiqomah dalam menampilkan kebiasaan terbaik yang mampu mengantarkan kamu sebagai pemimpin kehidupan, dan kehidupanmu sebenarnya dapat dilihat pada sejauh mana peran yang kamu mainkan di tengah-tengah kehidupanmu itu sendiri.
Dalam buku Akh. Muafik saleh telah menyebutkan tujuh kompetensi langkah utama, atau sikap-sikap yang mestinya dimiliki dalam membangun masing-masing kebiasaan yang dapat membuat dirimu lebih baik. in sha Allah.
1.      Ketajaman visi
Penetapan visi atau tujuan, optimisme, perencanaan, pencapain misi, motivasi, sukses masa depan
2.      Kompetensi diri
Konsep diri, pusat kesadaran, focus dan kualitas diri.
3.      Hidup efektif
Berfikir besar dan positif, komunikasi efektif, manajemen waktu, amal yang mengandung prestasi, diam emas.
4.      Kepekaan dan kepedulian sosial
Peka dan peduli, bersikap empati kepada orang lain, jeli dan cermat.
5.      Perubahan sosial
Semangat amar ma’ruf nahi mungkar, berani mengambil resiko, memberikan teladan terbaik, prinsip inilah saatnya, istiqomah dalam perubahan.
6.      Bertindak professional
Disiplin, sikap terpecaya, jujur dan terbuka, penuh tanggung jawab, memiliki keterampilan manajemen.
7.      Puncak kepemimpinan
Menjadi pribadi kharismatik, canggih dalam berinteraksi, tepat dalam mengambil keputusan, mampu memotivasi, team work.

Saudaraku …
            Tidak ada yang mustahil di dunia ini jika Allah menghendaki. Rendah hati boleh, namun jangan sampai menurunkan martabat diri. Tanamkan dalam hati kecilmu bahwasannya kamu bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.
"إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيرما بأنفسهم"
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum, sampai hambanya itu berusaha mengubahnya”
Tinggalkan masa lalu saudaraku, jangan habiskan waktumu karena hanya sesali apa yang telah terjadi. Bangkitlah sekarang, dan jangan habiskan waktumu karena hanya memikirkan apa yang akan kamu lakukan besok. Namun pikir dan habiskanlah pekerjaanmu yang sekarang. Karena kamu yang dimasa akan datang, kamu yang sekarang ini, dan kamu yang sekarang ini adalah kamu yang kemarin. So … Life is choise saudaraku. Hidupmu adalah amanat dari sang pencipta, maka pergunakanlah ia dengan sebaik mungkin, karena dirimulah juga yang akan menolongmu di akhirat kelak jika dirimu adalah orang baik.
Saudaraku …
Betapa indahnya dan beruntungnnya jika dirimu adalah orang baik, karena orang yang baik itu akan menjadi sosok pribadi yang sangat dirindukan. Dan betapa beruntungnya jika dirimu memiliki kebiasaan yang baik, karena orang yang memiliki kebiasaan baik akan selalu melahirkan suasana positif.
Semua orang akan mendekatimu, menyukaimu bahkan tidak sungkan untuk meminta bantuanmu. Ingatlah saudaraku, mengalah itu bukan berarti kalah, namun itu adalah sebuah kemenangan terbesar, mengapa demikian? Karena tidak semua orang bisa melakukannya.
Maka dengan hal ini wahai saudaraku, tentu akan menjadi sumber motivasi tersendiri dalam diri kita untuk mengerjakan tugas dengan lebih baik dan muncul semangat sense of belonging, in sha Allah dengan izinnya.
So … jadilah pribadi yang baik! Baik kamu maupun aku.
Huallahua’lam

Penyusun: Ameliya Binti Yusuf









Rabu, 20 Maret 2019

Pemimpin Yang Dinantikan


Pemimpin Yang Dinantikan

Suara gaduh, upaya menggoyang kekuasaan menjelang pemilu menjadi ciri khas pemerintah saat ini. Yang memegang kuasa uang ia akan mampu mengendalikan media, masyarakat sipil dan faktor lainnya untuk mengubah pemerintahannya.
Sisi lain, pihak berkuasa tentunya akan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, termasuk mengenakan aparat dan memperdayakan masyarakat. Kini Rakyat layaknya kendaraan politik menuju kekuasaan.
Pemilu presiden di bulan April 2019 nanti, membuat gemuruh hati masyarakat Indonesia. Berbagai isu-isu calpres maupun walpres yang ada serta perdebatan yang diadakan kemarin, masyarakat lagi-lagi bingung, manakah yang lebih layak dan tepat akan menjadi pemimpin Indonesia nantinya selama lima tahun kedepan,? Dan lima tahun itu tidak cepat.   
Tahun 2018 adalah saksi bukti kerusakan-kerusakan dan musibah yang ada, datang silih berganti di Indonesia. Masyaraat telah diperbodohi oleh pikiran-pikiran liberal, sehingga mereka mengatakan bahwasanya bencana yang datang tidak ada sama sekali keterkaitannya dengan maksiat yang mereka lakukan. Padahal dapat dikatakan bahwasannya inilah sebab awal mulanya kerusakan terjadi. Penjajahan itu tidak senantiasa berupa fisik, melainkan dapat pula berupa pemikiran dan serangan.
Sebagaimana Rasulullah SAW. mengatakan serta mengingatkan yang dalam artinya
(Jika ada suatu kaum yang hancur, itu di akibatkan oleh pemimpinnya yang hancur pula. Dan Negara akan baik, jika pemimpinnya juga baik. )
Masyarakat Indonesia kehausan sosok pemimpin yang adil, kuat, berpengetahuan baik dan bijaksana. Maka dari sini, tidak heran dan salah jika kita harus berhati-hati dalam pemilihan pemimpin di Negeri kita yang tercinta dan didambakan khususnya kaum Muslimin.
Ketahuilah, jika ingin bahagia dan untuk tidak ragu dalam sesuatu, maka kita jadikan pesan Rasulullah SAW. sebagai dasar keputusan, karena disitulah kita akan menemukan ketenangan.
Maka dari itu untuk tidak ragu dalam memilih pemimpin, berikut terdapat tujuh syarat dalam pandangan islam bagi seorang yang akan memangku jabatan kepala Negara. Yaitu :
1)      Pertama, dia adalah seorang Muslim. Maka tidak sah bagi orang kafir menjadi kepala Negara menurut syariah Islam. Karena Allah Ta’ala berfirman:
‘‘wa lan yaj’alallahu lilkafirina ’alal mukminin sabila’’
(Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menghanurkan orang-orang mukmin.) (Q.S.An-Nisa’: 141)
Pemerintah adalah jalan yang paling mudah bagi penguasa untuk menghanurkan orang yang dikuasainya. Maka dalam Islam larangan yang tegas agar orang kafir sama sekali tidak menguasai pemerintahan atas umat Islam.
2)      Kedua, dia adalah seorang laki-laki. Maka tidak boleh seorang perempuan. Rasulullah SAW bersabda:
‘‘Tidak akan beruntung, suatu kaum yang memberikan kekuasaan kepada seorang perempuan.’’
Artinya, dia harus seorang laki-laki.
3)      Ketiga, dia adalah seorang baligh. Maka tidak boleh seorang anak-anak.
4)      Keempat, dia adalah orang berakal. Tugas kepala Negara menurut syariah Islam adalah menjalankan pemerintahan serta melaksanakan taklif-taklif syar’i. sehingga, tidak sah jika dia gila.
5)      Kelima, dia adalah orang yang adil. Maka tidak sah jika dia adalah orang fasik. Karena keadilan merupakan syarat yang harus ada bagi seorang kepala Negara.
6)      Keenam, dia adalah orang yang merdeka. Karena budak tidak berhak mengatur dirinya sendiri. Apatah lagi mengurus orang lain.
7)      Ketujuh, dia adalah orang yang mampu mengemban tugas-tugas kepala Negara. Sehingga, bagi seorang yang tidak mampu mengemban tugas-tugas kepala Negara tidak sah menjadi kepala Negara.
Tidak ada kata lain, selain selalu berusaha dan berdoa untuk pemimpin yang didambakan dan yang dinantikan untuk negeri ini.
اللهم أصلح ولاة أمورنا. اللهم وفقهم لما فيه صلاههم و صلاح الإسلام والمسلمين
(Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin.)


Nikah Itu Setepatnya, Bukan Secepatnya

    Nikah Itu Setepatnya, Bukan Secepatnya Oleh : Ameliya Binti Yusuf *) Dilema yang dirasakan para pemuda hari ini adalah ketika ia dit...