Rabu, 20 Maret 2019

Pemimpin Yang Dinantikan


Pemimpin Yang Dinantikan

Suara gaduh, upaya menggoyang kekuasaan menjelang pemilu menjadi ciri khas pemerintah saat ini. Yang memegang kuasa uang ia akan mampu mengendalikan media, masyarakat sipil dan faktor lainnya untuk mengubah pemerintahannya.
Sisi lain, pihak berkuasa tentunya akan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, termasuk mengenakan aparat dan memperdayakan masyarakat. Kini Rakyat layaknya kendaraan politik menuju kekuasaan.
Pemilu presiden di bulan April 2019 nanti, membuat gemuruh hati masyarakat Indonesia. Berbagai isu-isu calpres maupun walpres yang ada serta perdebatan yang diadakan kemarin, masyarakat lagi-lagi bingung, manakah yang lebih layak dan tepat akan menjadi pemimpin Indonesia nantinya selama lima tahun kedepan,? Dan lima tahun itu tidak cepat.   
Tahun 2018 adalah saksi bukti kerusakan-kerusakan dan musibah yang ada, datang silih berganti di Indonesia. Masyaraat telah diperbodohi oleh pikiran-pikiran liberal, sehingga mereka mengatakan bahwasanya bencana yang datang tidak ada sama sekali keterkaitannya dengan maksiat yang mereka lakukan. Padahal dapat dikatakan bahwasannya inilah sebab awal mulanya kerusakan terjadi. Penjajahan itu tidak senantiasa berupa fisik, melainkan dapat pula berupa pemikiran dan serangan.
Sebagaimana Rasulullah SAW. mengatakan serta mengingatkan yang dalam artinya
(Jika ada suatu kaum yang hancur, itu di akibatkan oleh pemimpinnya yang hancur pula. Dan Negara akan baik, jika pemimpinnya juga baik. )
Masyarakat Indonesia kehausan sosok pemimpin yang adil, kuat, berpengetahuan baik dan bijaksana. Maka dari sini, tidak heran dan salah jika kita harus berhati-hati dalam pemilihan pemimpin di Negeri kita yang tercinta dan didambakan khususnya kaum Muslimin.
Ketahuilah, jika ingin bahagia dan untuk tidak ragu dalam sesuatu, maka kita jadikan pesan Rasulullah SAW. sebagai dasar keputusan, karena disitulah kita akan menemukan ketenangan.
Maka dari itu untuk tidak ragu dalam memilih pemimpin, berikut terdapat tujuh syarat dalam pandangan islam bagi seorang yang akan memangku jabatan kepala Negara. Yaitu :
1)      Pertama, dia adalah seorang Muslim. Maka tidak sah bagi orang kafir menjadi kepala Negara menurut syariah Islam. Karena Allah Ta’ala berfirman:
‘‘wa lan yaj’alallahu lilkafirina ’alal mukminin sabila’’
(Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menghanurkan orang-orang mukmin.) (Q.S.An-Nisa’: 141)
Pemerintah adalah jalan yang paling mudah bagi penguasa untuk menghanurkan orang yang dikuasainya. Maka dalam Islam larangan yang tegas agar orang kafir sama sekali tidak menguasai pemerintahan atas umat Islam.
2)      Kedua, dia adalah seorang laki-laki. Maka tidak boleh seorang perempuan. Rasulullah SAW bersabda:
‘‘Tidak akan beruntung, suatu kaum yang memberikan kekuasaan kepada seorang perempuan.’’
Artinya, dia harus seorang laki-laki.
3)      Ketiga, dia adalah seorang baligh. Maka tidak boleh seorang anak-anak.
4)      Keempat, dia adalah orang berakal. Tugas kepala Negara menurut syariah Islam adalah menjalankan pemerintahan serta melaksanakan taklif-taklif syar’i. sehingga, tidak sah jika dia gila.
5)      Kelima, dia adalah orang yang adil. Maka tidak sah jika dia adalah orang fasik. Karena keadilan merupakan syarat yang harus ada bagi seorang kepala Negara.
6)      Keenam, dia adalah orang yang merdeka. Karena budak tidak berhak mengatur dirinya sendiri. Apatah lagi mengurus orang lain.
7)      Ketujuh, dia adalah orang yang mampu mengemban tugas-tugas kepala Negara. Sehingga, bagi seorang yang tidak mampu mengemban tugas-tugas kepala Negara tidak sah menjadi kepala Negara.
Tidak ada kata lain, selain selalu berusaha dan berdoa untuk pemimpin yang didambakan dan yang dinantikan untuk negeri ini.
اللهم أصلح ولاة أمورنا. اللهم وفقهم لما فيه صلاههم و صلاح الإسلام والمسلمين
(Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin.)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nikah Itu Setepatnya, Bukan Secepatnya

    Nikah Itu Setepatnya, Bukan Secepatnya Oleh : Ameliya Binti Yusuf *) Dilema yang dirasakan para pemuda hari ini adalah ketika ia dit...