Pada zaman yang gersang ini, di mana jiwa-jiwa
telah rusak, ruh menjadi kering, cahaya hati telah padam, bara api keimanan
yang menerangi hati telah redup, sujud pun tak khusuk dan kata-kata hikmah tak
lagi mampu menembus hati untuk memberikan pengaruh positif. Seperti yang kita
sudah sangat ketahui, yang menguasai media sosial adalah musuh-musuh kita, yang
dimana kita lihat hampir seluruh manusia menjadikan kiblat nomor satu dalam
kehidupan mereka. Sadar tidak sadar kita sudah di serang balik oleh mereka.
Ummat muslim sekarang bahkan anak-anak yang belum cukup umur sudah sangat
menikmati dan menguasai dengan apa yang musuh-musuh kita ciptakan. Diantaranya
seperti; Tv, Majalah, Internet, Hp, dan masih sangat banyak lagi.
Ada suatu fenomena yang mungkin semua diantara
kita melihatnya, yaitu fenomena perpecahan yang terjadi diantara umat islam.
Salah-satunya penyebab perpecahan itu adalah Budaya. Di zaman sekarang kalau
kita melihat budaya sangat menggilat sekali, yang terkadang budaya itu tidak sesuai
dengan syariat Allah SWT, bahkan bertentangan dengan syariat Allah SWT yang
mengandung kesyirikkan, juga mengundang ritual-ritual. Maka apakah seorang
muslim masih ingin mengikutinya?
“Maka berfikirlah wahai orang-orang yang
berfikir’’
Kaum ziosme telah bertindak, sedang memerang
umat muslim tanpa disadari, bahkan sedang mempersiapkkan ciptaan-ciptaan baru
untuk memerangi umat muslim. Dan kalau sudah tahu demikian, masihkah kita ingin
duduk saja menikmati dan berlarut-larut dengan ciptaan mereka? Tidak inginkah berjuang?
Buat kalian umat muslim khususnya para remaja,
bangkitlah, berjuanglah dengan memanfaatkan ciptaan-ciptaan mereka. Yah … Menulislah!
Buktikan kalau kita umat muslim punya segudang
ide dan inovasi, nggak cuman mereka musuh kita saja. Keluarkan kreativitas
tanpa batas, kuasai media, kuasai dunia. Tidak ada alasan untuk tidak menulis,
berjuang untuk menang bukan untuk berangan, karena Allah telah memberikan kemenangan.
Menulislah! karena kamu akan melihat dunia. Menulis itu berjuang dan berbagi,
dan juga bisa menganggkat kehidupan orang lain.
Apa kontribusi kita sebagai pemuda atau remaja
untuk islam terhadap kebutuhan umat? Pemilik harta berlomba-lomba menyedekahkan
hartanya, lalu apa kontribusi kita jika menulis saja tidak bisa? Menulis untuk
umat, bukan hanya ingin jadi wartawan saja. Sebuah tulisan benar-benar punya
kekuatan, tergantung mau dipakai untuk apa kekuatan itu. Kalau untuk berdakwah,
maka pahala didapat.
Berdakwah tak hanya mesti terjun kelapangan,
namun lewat tulisan juga salah-satu sarana yang tepat secara lembut untuk
berdakwah. Tidak sedikit orang mendapatkan hidayah melainkan telah membaca dari
sebuah tulisan. Percayalah!
Semua orang memiliki pengalaman masing-masinig,
dan yang membedakannya hanyalah; ada yang membiarkannya berlalu begitu saja,
ada yang mengambil pelajaran darinya, dan ada juga orang yang tak ingin
menikmatinya seorang, namun ia akan membaginya untuk dijadikannya sebuah
pelajaran yang berharga. Yah … dengan sebuah tulisan.
Ada seorang pepatah mengatakan;
“Sebesar apa kesedihanmu kareana akhirat,
sebesar itu pula keinginan duniamu keluar dari hatimu”
Maka dengan ini, seseorang yang bersedih karena
akhiratnya, sebesar itu pula keinginan dunianya akan keluar. Menulis adalah
salah-satu amalan dunia yang akan menjadi amalan pahala yang senantiasa
mengalir buatmu diakhirat kelak. Karena jikalau seorang mukmin selalu terikat
dengan akhiratnya, maka semua yang ada di dunia dia gerakkan untuk mengingat
akhirat. (Setiap menekuni sesuatu, itulah yang menjadi pusat perhatiannya)
“Seorang mukmin apabila melihat kegelapan maka
ia teringat akan gelapnya kuburan. Apabila melihat sesuatu yang menyedihkan
maka ia teringat akan siksaan. Apabil mendengarkan sesuatu yang mengerikkan
maka ia teringat akan tiupan sangkakala. Dan apabila melihat orang-orang
tertidur maka teringat akan orang-orang yang mati didalam kuburan.” (Shaidul khatir, ibnu jauzi, hal 416)
Menulis merupakan berbagi, sebagaimana yang
telah dijelaskan. Tulisan pun salah-satu bentuk amalan dari ilmu yang telah
kamu dapat, juga merupakan suatu alat amal. Maka kalau orang menghabiskan
umurnya hanya untuk mencari alat, lalu kapan dia beramal?
Salah seorang pendidik yaitu Abdul Qodir
jailani berkata kepada anaknya,
“Nak, kepandain lisan tanpa diiringi amalan
hati itu, tidak mendekatkanmu kepada kebenaran meskipun hanya selangkah. Nak,
mengamalkan ilmu adalah cahaya ilmu, kejernihan yang paling jernih, permata
dari segala permata dan intisarinya mengamalkan ilmu adalah menyehatkan hati
dan mensucikannya. Ilmu tanpa amalan adalah salah-satu tanda istidraj.’’
Hamid ad-Daqqaq berkata:
“Apabila Allah menghendaki kebinasaan
seseorang, maka dia menghukumnya dengan tiga hal, diantaranya; dia memberikan
rezeki ilmu, namun tidak memberinya rezeki amalan para ulama” (Tanbih Al-Ghafiin, As-samarqondi, hal 13)
Maka dengan ini menulislah wahai Saudaraku yang senantiasa
dinanti-nantikan Umat. Dengan menulis kita dapat melihat dunia, merubah dunia. Begitu
juga sebuah tulisan dapat dikenang sepanjang masa. Mengapa demikian? Karena
sebuah tulisan yang kita tulis, dapat membuka jalan keilmuan dari jalan kebodohan
dengan izin Allah Swt pastinya.
Sayangnya saat ini kita lihat banyak orang-orang yang mementingkan
kondisi awal dibandingkan perubahan. Mereka mengeluh bahwa mereka adalah korban
system yang tidak islami, terlahir yatim piatu dan hanya berharap dari luar
saja. Jarang sekali yang menyadari bahwa kebiasaan buruk merekalah yang membuat
mereka selalu gagal, Kebiasaan buruklah yang memosikan diri sebagai korban,
selalu mengeluh dan bermental pengemis. Sebuah keberuntungan adalah hasil
pembiasaan diri. Ciptakan keberuntungan dengan kebiasaan baik, jangan hanya
menunggu keberuntungan. Jangan berharap beruntung mendapatkan istri solehah
bila kita tidak menciptakan kesempatan itu dan hanya menunggu takdir.
Patutlah kiranya seorang mukmin menyikapi peristiwa tarbiyah
dikalangan ulama-ulama kita yang begitu banyak telah membukukan tulisan-tulisan
mereka secara menarik dengan rasa kagum dan sedih. Kagum atas kemauan dan
semangt yang tinggi untuk menulis serta penemuan metodologi tarbiyah
yang tinggi, dan sedih karena melihat kondisi kita dan hasil tarbiyah yang
selama ini kita peroleh, yaitu badan yang berat untuk beribadah, hati yang
keras dan jiwa yang kering.
Segala sesuatu harus selalu disertai dengan niat yang tulus dan
juga ikhlas. Begitupun pula dengan menulis harus disertai niat yang lurus juga
ikhlas. Menulis untuk apa? Karena apa? Dan untuk siapa? Menulis sama halnya
berkata atau menyampaikan sesuatu dengan tujuan maksud. Dan sebuah perkataan
harus disertai dengan keikhlasan. Sebab hilangnya keikhlasan itu mematikan
kata-kata yang keluar dan menguburnya dibawah tapak kaki.
Ketika hamdun bin Ahmad
ditanya, “Mengapa perkataan orang-orang salaf lebih bermanfaat dari
perkataan kita?”
Beliau menjawab, “Karena mereka berkata untuk kemuliaan islam,
keselamatan jiwa, dan mengharap ridha Allah, sedang kita berkata untuk
kemuliaan diri sendiri, mencari dunia, dan mengharap ridha makhluk.” (Hilyatul
Auliya-10/231) Nauzubillah min zalik.
“Kebenaran tidak akan berkuasa dalam kehidupan ini, kebaikan tidak
akan tersebar, kalimat iman tidak akan menjadi tinggi, dan bendera kemuliaan
tidak akan berkibar melalui para mabadi’ (Prinsip). Yaitu orang-orang yang
beramal demi mengkeruk keuntungan dan meraup dunia. Semua itu juga tidak akan
terjadi melalui orang-orang riya’, yang tidak beramal kecuali untuk dilihat dan
didengar manusia, disebut-sebut dan semua telunjuk mengarah padanya.
Akan tetapi, kebenaran, kebaikan, dan iman akan menang melalui
orang-orang yang ikhlas, selalu memegang prinsip, mampu memberi pengaruh dan
bukan terpengaruh, mau berkorban bukan mengambil manfaat, dan memberi bukan mengambil.” (Fit Ath-Thariq ilallah; An-Niyah wal ikhlas, Dr Yusuf
al-Qordowi, hal.96)
Penulis menaruh harapan:
Harapan agar lembaran-lembaran ini mampu memberi semangat lebih
dalam berdakwah, karena dakwah tidak cukup hanya berceramah saja, namun
khususnya mampu untuk merangkai kata-kata dan nasehat dalam sebuah tulisan,
membangunkan jiwa yang masih terlelap, dan juga menjadi sarana untuk
menunjukkan kita kepada amal sholeh amal jariyah in shaa Allah. Sebagaimana
yang dikatakan Qois Bin Amru Al-Mulai, “Apabila sampai kepadamu suatu
kebaikan maka kerjakanlah meskipun hanya sekali, maka engkau termaksud
ahlinya.” (Shifatus Shafwah)
Menulislah saudaraku! Teruslah melangkah! selama engkau dijalan
yang baik, meski terkadang kebaikan tidak senantiasa dihargai. Mulialah dari
hal-hal sederhana disekitarmu yang terkadang bahkan tak terpikir orang lain.
Dari berbagai sumber
Huallahua’lam bishowab
Penyusun: Amheliya Meong (أم هريرة)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar